Home Berita

Hibah Riset 100 Tahun Pak Harto

by admin trilogi admin trilogi No Comments

Universitas Trilogi Proudly Present📢
✨Lomba Hibah riset dan Lomba Essay✨
Dalam memperingati Dies Natalis, Universitas Trilogi berkerja sama dengan Panitia Peringatan Seabad HM.Soeharto memberikan kesempatan untuk Teman-Teman Calon Researchers untuk mengikuti Lomba Hibah Riset dan Penulisan Essay / Artikel dengan tema :
-Kepemimpinan HM.Soeharto dari berbagai Prespektif-
Dengan Kategori :
♦️ Kategori A :
Untuk peneliti/Mahasiswa S2, S3/Umum Maksimal pengusulan anggaran proposal Rp.22juta
♦️Kategori B :
Untuk mahasiswa tingkat S1 Maksimal tingkat S1 Maksimal pengusulan anggaran proposal Rp.8juta
Untuk kategori ini akan dibiayai 5proposal terbaik dan mendapatkan beasiswa pascasarjana di Universitas Trilogi
♦️Kategori C : Beasiswa penulisan Esaay/Artikel
Untuk siswa/i SMA/Sederajat
Total hadiah Rp.15 juta
Terdiri dari 3 pemenang dan 2 juara harapan, serta mendapatkan studi S1 di Universitas Trilogi 🎓

Yuk ikutan dan join sekarang !!✨
Klik link di bawah ini ⬇️
https://bit.ly/3bE7vaU
*batas waktu submit terakhir : 1 juni 2021

Info lebih lanjut :
📩 100thpakharto@trilogi.ac.id
Cp Hibah riset :
☎️ +62 852 6696 8122 ( Yoni atma, STP., M.Si.)
Cp Lomba esaay
☎️ + 62 823 3144 0661 ( Febriyanti Yuli S., SPd.i,MPd.)

Link :

https://sites.google.com/trilogi.ac.id/100tahunpakharto/silahkan-login-ke-gmail

Penghargaan Dosen, Tendik dan Mahasiswa Berprestasi 2021

by mufti mufti No Comments
previous arrow
next arrow
previous arrownext arrow
Slider
Dosen Berprestasi 2021
1.  Dr. M. Rizal Taufikurahman
2.  Silvester Dian Handy Permana, ST., MTI.
3.  Ir.. Yaddarabullah, M.Kom, IPM
Tenaga Pendidik Berprestasi 2021
1. Febrianti Liolango, S.E., M.M
2. Muslimin, S.Sos.
3. Eko Tri Sukaedi, S.E.
Mahasiswa Berprestasi 2021
1. Fauziah Shara
2. Muhammad Akmal Fadillah
3. Aditya Fadillah Azka

Sampaikan Kuliah Umum di Universitas Trilogi, Ketua MPR: Diperlukan Generasi Pancasialis Untuk Menjadi Pemimpin Bangsa

by mufti mufti No Comments

Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengapresiasi berbagai prestasi yang dicapai Universitas Trilogi. Antara lain meraih peringkat ke-30 dari 309 perguruan tinggi swasta terbaik se-DKI Jakarta. Berdasarkan kinerja riset, Universitas Trilogi juga berhasil meningkatkan status menjadi klaster ‘utama’. Serta mendapatkan penghargaan dari Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LL DIKTI) wilayah III sebagai perguruan tinggi terbaik ke-2 di Provinsi DKI Jakarta, berdasarkan persentase jumlah dosen yang memiliki jabatan fungsional akademik dan sertifikasi dosen terbanyak.

 

“Dengan berbagai raihan prestasi tersebut, saya yakin Universitas Trilogi mampu mewujudkan visi kampus menjadi universitas yang inovatif dengan mengembangkan technopreneur, kolaborasi dan kemandirian dalam sistem ekonomi berdasar nilai-nilai Pancasila. Technopreneurship, kolaborasi, dan kemandirian adalah tiga pilar fundamental mewujudkan kampus yang berkualitas, maju, dan berdaya saing,” ujar Bamsoet dalam kuliah umum dalam rangka penerimaan mahasiswa baru Tahun Akademik 2021-2022 Universitas Trilogi, secara virtual di Jakarta, Senin (6/9/21).

 

Turut hadir antara lain Ketua Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta (YPPIJ) Aris Setyanto Nugroho, Sekretaris YPPIJ Indra Kartasasmita, Bendahara YPPIJ Wisnu Suhardono, Rektor Universitas Trilogi Mudrajad Kuncoro, Wakil Rektor Universitas Trilogi Kabul Wahyu Utomo.

 

Ketua DPR RI ke-20 ini juga mengapresiasi langkah Universitas Trilogi yang mengangkat tema Pancasila dan Kebhinekaan dalam penerimaan mahasiswa baru, sebagai wujud kepedulian kampus untuk membangun wawasan kebangsaan di lingkungan pendidikan tinggi. Membangun generasi Pancasilais dan menggugah kesadaran kebhinekaan merupakan dua kata kunci, dan menjadi isu yang sangat esensial bagi generasi muda bangsa, khususnya para mahasiswa, karena di pundak mereka masa depan bangsa dipertaruhkan.

Generasi Muda Pancasilais

 

“Seperti kita ketahui bersama membangun Generasi Muda Pancasilais dan membuka kesadaran kebhinekaan merupakan dua kata kunci dan menjadi isu yang sangat esensial bagi generasi muda bangsa, khususnya para mahasiswa karena kepada mereka lah masa depan bangsa ini dipertaruhkan,” tuturnya.

 

Meski begitu, Bambang mengakui membangun generasi Pancasilais itu bukanlah pekerjaan instan dan mudah dilakukan. Seiring perjalanan kehidupan kebangsaan, Pancasila telah diuji dan ditempa oleh paradigma dinamika peradaban.

 

“Cara kita merawat dan mempertahankan nilai-nilai luhur Pancasila agar menjadi jati diri dan jiwa bangsa tentunya juga akan menuntut penyesuaian cara pandang dan pendekatan sehingga mampu berkontestasi dengan nilai-nilai dan paham-paham kontemporer yang hadir melalui gelombang kontinuitas zaman dan arus global,” jelasnya.

 

Derasnya arus globalisasi, menurut Bambang, telah menepiskan batas-batas teritorial membawa serta nilai-nilai asing tanpa filtrasi, yang meskipun perlahan namun pasti dirasakan mulai menggeser nilai-nilai kearifan lokal. Bahkan cenderung menegasikan nilai-nilai luhur Pancasila.

 

Peran Strategis Perguruan Tinggi

 

Dalam kaitan ini, menurut Bambang, perguruan tinggi tentunya memiliki peran strategik sekaligus krusial dalam membentuk generasi muda bangsa yang tidak hanya kompeten dan terampil secara akademis namun juga punya memiliki karakter yang kuat berjiwa Pancasila dan berhati Indonesia. Aspek yang kedua adalah kesadaran kebhinekaan.

 

“Setiap kita harus menyadari bahwa bangsa Indonesia telah lahir dalam keberagaman, baik dari aspek budaya, agama, suku, golongan maupun latar belakang dan pandangan politik,” ujar dia.

 

“Heterogenitas telah menjadi fakta sejarah yang tidak bisa kita pungkiri. Juga tidak bisa anda abaikan. Oleh karenanya merawat dan memperjuangkan kemerdekaan dalam keberagaman adalah sebuah keniscayaan sekaligus sebuah tantangan,” imbuhnya.

 

Bambang mengutarakan kebhinekaan bukanlah warisan sejarah. Ataupun fakta sosiologi yang didapatkan dengan cuma-cuma. Tetapi sesuatu yang harus terus-menerus diperjuangkan. Kebhinekaan yang kaya akan keberagaman hanya bisa diwujudkan dengan kemampuan dalam pengelolaan kemajemukan tersebut.

 

Posisi Strategis Mahasiswa

 

Sebagai penutup, Bambang mengingatkan peran dan posisi strategis mahasiswa dalam kehidupan bermasyarakat berbangsa dan bernegara baik sebagai generasi pembelajar, generasi pejuang dan sebagai agen perubahan.

 

Sebagai generasi pelajar ke potensi akademis dan kematangan pemikiran kalian sebagai insan cendikia diharapkan mampu membangun narasi kebangsaan mengenai pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai Pancasila dan merawat kebhinekaan kita melalui metodologi-metodologi dan pendekatan atraktif dan inovatif yang bisa diterima oleh seluruh generasi muda bangsa.

 

“Sebagai generasi pejuang, kalian akan terus bergulir menghadapi tantangan zaman. Di sinilah peran penting kalian untuk dapat menularkan semangat juang yang energik dan etos kerja yang penuh optimisme dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan,” ucap dia.

 

“Sebagai agen perubahan, idealisme dan daya dobrak kalian kiranya diharapkan mampu membangun kesadaran dan menemukan komitmen dan meneguhkan tekad masyarakat untuk selalu mempertahankan Pancasila sebagai pandangan hidup dan ideologi dan semangat kebhinekaan sebagai ikatan kebangsaan,” tandas Bambang.

 

Membumikan Pancasila

 

Rektor Universitas Trilogi Prof Mudrajad Kuncoro, PhD dalam paparan sebelumnya bertajuk “Membumikan Sistem Ekonomi Pancasila Dengan Membangun Generasi Pancasilais dan Merajut Kebhinekaan” memaparkan, Sistem Perekonomian Indonesia (Nasional) adalah “Sistem Ekonomi Pancasila” (SEP) yang disebut sebanyak 9 kali dalam Tap MPR Nomor II/MPR/1998 tentang GBHN.

 

Mudrajad mengutip pernyataan Anggota Lembaga Pengkajian MPR RI, Prof Didik J Rachbini, yang menyatakan konsep ekonomi Pancasila dalam UUD NRI 1945 sudah jelas yakni berorientasi pada kesejahteraan rakyat, tapi implementasinya sulit. Ekonomi Pancasila dalam implementasinya berbeda nyata dengan nilai-nilai luhur Pancasila berdasarkan konstitusi.

 

Lebih jauh Mudrajad menjelaskan perkembangan wacana maupun perkembangan teori SEP yang sudah ada sejak lama. Minimal ada tiga jalur yang telah ditempuh untuk menggaungkan SEP.

 

“Pertama adalah jalur yuridis formal. Adalah Profesor Sri Adi Sasono dkk yang intinya menerjemahkan SEP dalam konteks ekonomi dan bisnis apa, dengan mengacu pada pasal 33, Pasal 23, Pasal 27 dan Pasal 34 UUD 1945,” urainya.

 

Lalu, jalur orientasi. Adalah Prof Emil Salim, Prof Mubyarto, Prof Sumitro Djojohadikusumo dan Dr Alfian yang mencoba mengaplikasikan sila-sila dalam Pancasila dalam konteks bisnis dan ekonomi.

 

“Terakhir adalah jalur rekonstruksionis konstitusional. Pendirinya Bapak Subiakto Tjakrawerdaya bersama dosen-dosen Universitas Trilogi dengan menulis buku tentang SEP,” jelas dia.

 

Visi dan Misi Jokowi-Maruf

 

Mudrajad melanjutkan arah dan kebijakan dari Pemerintah Jokowi-Maruf Amin saat ini dapat dilihat dari visi dan misinya. Yakni, membangun SDM terampil dan menguasai Iptek, infrastruktur, pemangkasan regulasi, penyederhanaan birokrasi dan transformasi ekonomi dari tergantung pada sumber daya alam menjadi daya saing manufaktur dan jasa modern.

 

Pertanyaannya capaian kerjanya bagaimana? Pertumbuhan ekonomi di tengah pandemi pada tahun 2020, Indonesia mengalami -2% (minus dua persen). “Waktu itu proyeksi saya sesuai dengan kenyataan dengan posisi paling pesimis,” ujarnya.

 

Grand Strategi Universitas Trilogi

 

Lalu, ujar Mudrajad, bagaimana dengan Universitas Trilogi?

 

“Kami bersama-sama dengan Ketua Yayasan YPPIJ Prof Arissetyanto Nugroho beserta Dewan Pembina dan segenap pengurus lainnya, mencoba untuk menghadapi pandemi ini dengan sejumlah strategi dan program di Universitas Trilogi. Kita coba mencari grand strategy yang jitu menghadapi pandemi Covid ini,” tuturnya.

 

Mudrajad membeberkan beberapa grand strategy untuk Universitas Trilogi. Pertama, adalah menentukan arah strategik dan program prioritas.

 

Kedua, pengembangan SDM perlu diprioritaskan. Apa dan bagaimana rasio dosen dan mahasiswa agar kampus ini unggul dan mendapatkan apresiasi yang tertinggi. Di antaranya, dengan meningkatkan persentase jumlah jabatan fungsional dosen.

 

“Hasilnya saat ini Universitas Trilogi tercatat sebagai perguruan tinggi nomor dua dilihat dari persentase dosen yang punya jabatan fungsional dan sertifikasi dosen,” imbuhnya.

 

Ketiga, meningkatkan jumlah dosen yang bergelar S3, Lektor Kepala dan juga Guru Besar. “Nah ini sudah kita wujudkan semua. Pun, dari segi budgeting, kita membuat creative funding,” ujar dia.

 

Selain itu, dilakukan juga transformation culture, berupa perubahan kultur, perubahan etos kerja, stop selling but start leading (tidak hanya menjual produk dan jasa tapi itu harus melebihi perguruan tinggi yang lain).

 

Juga, memberikan insentif kepada dosen maupun mahasiswa untuk penulisan buku jurnal dan konferensi. Dan memberikan Quality Improvement yakni melakukan teaching evaluation, tracer study alumni dan penjaminan mutu.

 

 

 

Sumber: wartamerdeka.com; indonesiavoice.com

Asah Kemampuan Mahasiswa Melalui ‘Kampus Merdeka’

by mufti mufti No Comments

Tantangan mahasiswa di masa depan semakin kompleks. Berbagai perubahan mudah dan cepat terjadi. Laju informasi berkembang cepat. Sehingga perlu keleluasaan dan kemudahan dalam menjalani proses perkuliahan.

 

Menteri Pendidikan, Kebudayaan dan Ristek (Mendikbud Ristek), Nadiem Makarim menyatakan tantangan itu dapat terjawab melalui kemerdekaan dalam masa studi. Mahasiswa diberikan keleluasan untuk mengembangkan dirinya dan mempertajam keterampilan, melalui program Kampus Merdeka.

 

“Sebagai mahasiswa berbeda dengan pelajar saat bersekolah. Mahasiswa memiliki kemerdekaan lebih luas untuk menentukan masa depan,” ujar Nadiem Makarim dalam sambutannya pada acara Penyambutan Mahasiswa Baru Universitas Trilogi, Jakarta, Senin, 5 September 2021.

 

Sehubungan itu, lanjut Menteri Pendidikan Kebudaaan dan Ristek pemerintah memberikan hak bagi mahasiswa untuk mengembangkan masa studinya melalui program ‘Kampus Merdeka’. Mahasiswa diberikan keleluasaan untuk mengembangkan diri tidak hanya dalam kegiatan perkuliahan tatap muka dalam kelas. Namun dikembangkan pada kegiata-kegiatan lainnya.

 

Melalui program ‘Kampus Merdeka’, lanjut Mendikbud Ristek membuka ruang bagi mahasiswa mengembangkan diri. Karena bisa secara aktif terlibat dalam kegiatan riset mandiri, magang di perusahaan, mengerjakan projek kemanusian, merancang wirausaha dan sebagainya.

 

“Semua itu merupakan ruang mengembangkan diri dan memperdalam ilmu pengetahuan. Dengan memperhatikan keragaman minat dan kemampuan,” imbuhnya.

 

Rektor Universitas Trilogi, Prof. Mudrajat Kuncoro, Ph.D menambahkan tantangan bangsa Indonesia adalah mengimplementasikan nilai Pancasila sepanjang hayat. Maka perguruan tinggi mengambil peran pentingnya untuk terus memperkuat nilai Pancasila, melalui kajian ilmiah sebagai sumbangsih dalam berbagai persoalan.

 

“Nyatanya memang sektor ekonomi berkarakter Pancasila masih tidak optimal. Banyak persoalan yang perlu dicarikan jalan keluarnya,” paparnya dihadapan mahasiswa baru.

 

Penulis: Mufti

Editor: Budi

Lewat Pelatihan Wirausaha di Universitas Trilogi, Usaha Kuliner Mahasiswa ini Melejit

by mufti mufti No Comments

Lewat Pelatihan Wirausaha di Universitas Trilogi, Usaha Kuliner Mahasiswa ini Melejit

 

ERA teknologi telah banyak membawa kemudahan. Semuanya seakan menjadi lebih praktis dari biasanya. Termasuk diantaranya ketika ingin memesan makanan. Tidak perlu ke luar rumah atau beranjak dari kantor. Cukup dengan membuka layar ponsel dan terus klik-klik.Beberapa menit kemudian menu yang diinginkan datang tersaji.Momentum inilah yang dimanfaatkan alumni jurusan Agroekoteknologi Universitas Trilogi, Rosa Qhoiriyah Cahyanda. Melalui produk ‘ngenyangin’ yang dibuatnya sejak 2019, Rosa mulai bisa merasakan efek teknologi dalam meningkatkan produksi dan labanya.
 

“Ngenyangin tersedia pada aplikasi-aplikasi pemesan makanan yang sudah terkenal di Indonesia. Bahkan kita sudah masuk sebagai kategori resto pilihan/super partner. Ngenyangin juga sudah dipercaya untuk menjadi mitra pada beberapa instansi dengan pesanan partai besar,” ujar mahasiswa Agroekoteknologi Universitas Trilogi angkatan 2016 ini.Kondisi Pandemi diakui Rosa menjadi momentum bagi usahanya karena imbauan untu tetap berada di rumah, sehingga memesan makanan secara daring menjaid pilihan “Di masa pandemi ini banyak masyarakat sekitar resto kami beraktivitas dengan WFH, dan diantaranya mereka memilih ngenyangin sebagai menu makan siang yang tepat, bahkan banyak juga orderan datang dengan radius yang jauh dari resto kami,” tambahnya.

Ngenyangin sendiri awalnya bekembang melalui melalui pembinaan yang dilakukan Pusat Pengembangan Kapasitas Wirausaha Bioindustri (PPKWB) Universitas Trilogi. Bahkan melalui PPKWB,  ngenyangin  akhirnya terpilih dan didanai oleh program PPK Simlitabmas  Kemendikbud-Ristek.

Ketua Program PPKWB, Maulidian merasa sangat senang sekali binaannya sudah banyak yang menuai hasil. Bahkan diantaranya ada yang bertumbuh cukup pesat walau dalam kondisi pandemi seperti ini. “Syukur dan senang mereka bisa terus bertumbuh. Untuk itu program pengembangan kewirausahaan ini akan terus kami lakukan dengan tujuan tidak lain agar bisa mendorong mahasiswa untuk terus berani melakukan kegiatan kewirausahaan. Disamping tentunya progam ini perlu dihadirkan untuk pendampingan bagi mereka yang bisnisnya sudah berjalan,” tutur dosen Agribisnis Universitas Trilogi ini.

 

Dekan Fakultas Bioindustri Universitas Trilogi, Inanpi Hidayati Sumiasih menuturkan mendukung penuh program PPKWB yang tidak hanya mewadahi mahasiswa, tetapi alumni dari Fakultas Bioindustri termasuk di dalamnya alumni Program Studi Agroekoteknologi akan diberikan  pembinaan secara berkala.“Tidak hanya dukungan berupa mentoring, tetapi PPKWB juga melakukan pemantauan yang kontinu untuk terus mengevaluasi sekaligus mendorong pertumbuhan dari setiap produk yang dipasarkan. Selain itu, saya melihat mereka juga memberikan stimulus kepada setiap tenant dengan memberikan uang pembinaan,” sampainya.

 

Untuk diketahui, Program Studi Agroekoteknologi sendiri merupakan salah satu program studi pilihan di Universitas Trilogi. Mahasiswa dan lulusan tidak hanya diberikan penguasaan sesuai bidang keilmuan. Tetapi juga diperkuat dengan penguasaan teknologi serta kemampuan berwirausaha. Universitas Trilogi mengenalkannya dengan nama teknososiopreneur. (OL-7)

Sumber: https://m.mediaindonesia.com/

Mahasiswa ITP Universitas Trilogi Buat Roti KarKus

by mufti mufti No Comments

Mahasiswa ITP Universitas Trilogi Buat Roti KarKus

 

Jakarta – Meskipun masih berstatus mahasiswa, Program Studi Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) Universitas Trilog, Rizky Muhammad Adi Perdana, berhasil meraih kemandirian finansial tanpa harus menunggu wisuda.

 

Berawal ikut Pusat Pengembangan Kapasitas Wirausaha Bioindustri (PPKWB) Universitas TrilogiMahasiswa ITP Universitas Trilogi angkatan 2017 ini dengan percaya diri melahirkan produk ‘Roti KarKus’.

 

“Roti KarKus, bukan hanya sekedar inovasi sebuah produk. Tetapi kita tetap menjaga keamanan dan mutu gizinya. Sehingga ketika produk ini dijadikan menu sampingan, kandungan isinya tetap dalam batas yang ditentukan. Selain itu, tentu inovasi yang dilakukan tidak terlepas untuk menggugah selera para penikmat roti bakar, sehingga mereka mempunyai banyak pilihan,”jelas Rizky Muhammad Adi Perdana.

 

Menurutnya, Melalui pendampingan tim PPKWB, produk Roti KarKus akhirnya berhasil didanai oleh program PPK Simlitabmas Kemendikbud – Ristek. Dengan pendanaan yang didapati, kini Roti Karkus sudah memiliki dua cabang penjualan yakni di Jakarta dan Bekasi. Pembukaan cabang penjualan ini tentunya memberikan efek meningkatkan omset yang diraih.

 

“Ke depan, cita-cita kita tentunya selain terus mengembangkan inovasi untuk produk baru. Tentu juga bisa kembali membuka cabang untuk beberapa daerah. Sehingga produk Roti KarKus bisa semakin dinikmati oleh banyak orang,” harap Rizky.

 

Ketua Program PPKWB Universitas Trilogi, Maulidian, mengungkapkan sangat bersyukur sekali melihat keberhasilan dan pencapaian dari tenant yang mereka bina. Bahkan diantaranya sudah mulai bergerak melakukan berbagai inovasi, baik dari segi produk maupun pemasarannya.

 

“Kita sangat senang dan bersyukur sekali. Memang dari awal mereka dibimbing, selain diberikan uang pembinaan, kita juga terus melakukan pendampingan secara berkala dan terus mendorong mereka untuk terus tumbuh dan berinovasi,” jelas pengusaha muda yang juga dosen Agribisnis Universitas Trilogi ini.

 

Sementara itu, Ketua Program Studi ITP, Hermawan Seftiono, sangat mengapresiasi semangat para mahasiswanya yang tidak hanya menguatkan kompetensi akademik, tetapi juga bisa menciptakan kemandirian baik untuk dirinya maupun ke yang lain. Sesuai dengan tagline kampus Universitas Trilogi sendiri, yang diantaranya adalah menciptakan kemandirian.

 

“Melalui PPKWB, para mahasiswa memang didorong untuk bisa berpikir mandiri, untuk kemudian berusaha menjadi pribadi mandiri, selanjutnya kemandirian yang diraihnya bisa memberikan efek sosial bagi masyarakat sekitar. Tentu ini semua melalui proses panjang, mulai dari mentoring, evaluasi sampai pada pemberian fasilitas dan pengembangan dalam bentuk dana usaha,” jelas pakar pangan ini. (ARM)

 

Sumber: Rakyat Merdeka

Kisah Inspiratif Dr. Rudi Bambang Trisilo, SE., MM

by mufti mufti No Comments

Kisah Inspiratif Dr. Rudi Bambang Trisilo, SE., MM

Jakarta – “Tidak ada kata terlambat untuk mencoba” atau “Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.” Peribahasa yang dipandang skeptis untuk masyarakat saat ini, namun tidak untuk Dosen Universitas Trilogi satu ini, dia Adalah Bapak Rudi Bambang Trisilo, SE., MM.

 

Rudi Bambang Trisilo, SE., MM. memulai karir sebagai dosen sejak 1988 di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Keuangan dan Perbankan Indonesia (STEKPI). Selain itu beliau juga pernah menempuh pendidikan; Kursus / pelatihan Advance Bank Management Program di Asian Institute of Management di Manila Filipina (1990); Program Pascasarjana Manajemen Universitas Indonesia (PPM-UI) Jakarta (1992-1995).

 

Dosen kelahiran Kediri, 5 Mei 1961 ini baru saja meraih gelar doktor dalam bidang Pengkajian Islam Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta (UIN), dengan judul Desertasi “Pengaruh Faktor Internal, Eksternal Ekonomi, dan Pembiayaan terhadap Kinerja Bank Syariah di Indonesia 2010-2020.” Dengan usianya yang tidak muda lagi (49 tahun) beliau tetap semangat meneruskan sekolahnya hingga meraih gelar terebut dengan status Sangat Memuaskan.

 

 

Dalam wawancara ekslusif kami, beliau menyampaikan kata-kata Mutiara yang terus dipegang teguh “Tuntutlah ilmu dari buaian hingga ke liang lahad.” Hal ini tentunya sangat menginspirasi bagi para dosen muda yang ada di universitas trilogi khususnya. Beliau menambahkan “Gelar Doktor ini selain menjadi persyaratan untuk menjadi (jabatan fungsional) Guru Besar, tetapi juga dibutuhkan oleh Program Studi Magister Manajemen di Universitas Trilogi.”

 

Apa yang diraih Bapak Dr. Rudi Bambang, SE., MM. Trisilo ini tentunya menjadi contoh dan panutan bagi para dosen Universitas Trilogi yang tersebar di 4 Fakultas; Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan (FKIP), Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB), Fakultas Bioindustri (FBIO) dan Fakultas Industri Kreatif dan Telematika (FIKT).

 

Beliau menutup dengan mengatakan “Semangat, lapang dada, siapkan sumberdaya (waktu, tenaga, fikiran) untuk belajar (meningkatkan) Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Iman, Taqwa.”

 

 

Penandatanganan MoU antara Universitas Trilogi dan Intelli Education Group (IEG)

by mufti mufti No Comments

Penandatanganan MoU antara Universitas Trilogi dan Intelli Education Group (IEG)

 

Jakarta – Dalam rangka menyiapkan para mahasiswa yang ingin menuntut ilmu di kampus-kampus terbaik di level internasional. Universitas Trilogi melakukan kerjasama dengan Intelli Education Group (IEG). Intelli Education Group (IEG) sendiri merupakan sebuah lembaga kerjasama yang bergerak untuk membantu para pelajar yang ingin menuntut ilmu di tingkat internasional.

 

 

Kegiatan penandatanganan kerjasama dengan IEG berlangsung di Universitas Trilogi pada Rabu, 18 Agustus 2021 yang dihadiri oleh; Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D (Rektor Universitas Trilogi), Nasrizal Nazir, MBA (Senior Strategic Advisor IEG), Veroliyondo Jamal, MBA (Strategic Advisor IEG), Rima Dewi Anggraeni, M.Eng (Indonesia Associate Director IEG), Dwi Sunu Kanto, Ph.D (Dekan FEB), Dr.Duana Fera Risina (Kaprodi MM) dan Fathia A. Pradina, M.Hum (Kabiro Kemahasiswaan, Kerjasama, Alumni dan Career Center) serta beberapa pejabat struktural Universitas Trilogi yang hadir secara daring.

 

 

Tujuan Kerjasama

Universitas Trilogi dan Intelli Education Group  Sdn Bhd (IEG CAMPUS) bersama-sama akan melaksanakan kegiatan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak dalam rangka pengembangan kelembagaan dengan memanfaatkan sumber daya yang dapat disediakan oleh masing-masing pihak. Salah satu programnya adalah para mahasiswa dan calon mahasiswa Universitas Trilogi dapat meraih gelar Master of Bussines Administration (MBA) dengan kurun waktu hanya 1 tahun.

 

 

Ruang Lingkup

Ruang lingkup kerjasama ini meliputi bidang:

  1. Pendidikan
  2. Pelaksanaan Double Degree;
  3. Pelaksanaan Joint Degree;
  4. Peningkatan dan pemberdayaan sumber daya;
  5. Berbagai kegiatan ilmiah seperti publikasi, seminar, workshop dan kegiatan ilmiah lainnya baik skala nasional maupun internasional;
  6. Kegiatan lain yang disepakati oleh PARA PIHAK.

 

 

 

 

Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

by mufti mufti No Comments

Indonesia Tangguh Indonesia Tumbuh

 

“Merdeka bukan momentum untuk berhenti berjuang, melainkan untuk menggaungkan kembali semangat berupaya. Kemerdekaan tak ditujukan untuk orang-orang yang berhenti berjuang, namun untuk mereka yang pantang menyerah menggapai cita.”

 

“Merdeka di era now harus diartikan merdeka dari panemi, virus, ketakutan, kemiskinan, pengangguran, ketimpangan.Universitas Trilogi bertekad mengisi kemerdekaan dengan mencetak calon pemimpin/wirausaha/profesional yang menguasai teknologi dan berjiwa sosial (teknososiopreneur), mandiri dan mampu berkolaboratif.”

 

Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D.

 

 

Refleksi Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Subiakto Tjakrawerdaja

by mufti mufti No Comments

Refleksi Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Subiakto Tjakrawerdaja

 

Jakarta – Serial Kajian Sistem Demokrasi dan Ekonomi Pancasila yang diselenggarakan oleh Pusat Studi Ekonomi Pancasila Universitas Trilogi telah memasuki seri ke-2. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 11 Agustus 2021 secara daring ini mengambil tema “Refleksi Pemikiran Sistem Ekonomi Pancasila Subiakto Tjakrawerdaja”

 

Beberapa tokoh nasional hadir dalam acara ini diantaranya Ir. H. Aburizal Bakrie (Menko Kesra 2005-2009), Prof. Dr. H. Haryono Suyono, M.A. (Menko Kesra dan Taskin 1998), Dr. Fuad Bawasier (Menteri Keuangan 1998) serta Prof. Dr. H. Edy Suandi Hamid, M.Ec. (Rektor Universitas Widya Mataram Yogyakarta).

 

Dalam pembukaannya Prof. Dr. Ir. Arissetyanto Nugroho, M.M., IPU (Ketua Yayasan Pengembangan Pendidikan Indonesia Jakarta) menyampaikan “Kehadiran buku SEP ini  merupakan upaya merekonstruksi pemikiran para pendiri negara secara ilmiah tentang Demokrasi Ekonomi melalui pendekatan kesisteman, yang merupakan bagian integral dari Sistem Demokrasi Pancasila. Secara keilmuan buku ini juga memperkaya khazanah keilmuan dalam mengonseptualisasikan dan memberikan pembelajaran SEP,”

 

Meskipun pada tataran aksinya masih ada kekurangan. Namun demikian, kelebihannya lebih banyak dan diakui dunia internasional, selama Orde Baru.  Ia kembali menekankan bahwa Pancasila adalah cara pandang bangsa Indonesia dan dirinya, ungkap beliau. Itulah nasionalisme.

 

Ada dua hal penting yang digarisbawahi Prof. Aris yaitu: Pertama, diperlukan dialog dan konsensu bersama untuk meletakkan dan menggunakan Pancasila dalam menata kembali kerangka kehidupan perekonomian negara. Konsensus bersama tersebut mesti dijiwai dan diletakkan di atas semangat kesepakatan para pendiri negara.  Dengan demikian kita bisa memastikan bahwa semua hasil-hasil pembangunan nasional bermanfaat sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

 

Kedua, dalam masa transisi menuju 100 tahun Indonesia merdeka, kita sebagai bangsa mesti  mampu mengelola kerawanan, tantangan dan ancaman yang dihadapi. Pasalnya,  implemenyasi SEP membutuhkan suasana kondusif, bukan sebaliknya. Batang tubuh UUD 1945 yang melandasi SEP ialah Pasal 23, 27, 33 dan 34 UUD 1945.

 

Semunya disebut sebagai acuan mendorong pencapaian Kesejahteraan Sosial Bangsa Indonesia. Kata Prof. Aris, tugas kita saat ini sebagai warga negara adalah bagaimana mengawal dan mendorong terciptanya kondisi yang kondusif  sehingga implementasi SEP jadi kenyataan.

 

Diskusi ini juga mengadirkan Abu Rizal Bakrie yang akrab disapa Ical. Beliau  merupakan kolega almarhum Subiakto sejak di Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) tahun 1977.  Mereka acapkali berdiskusi  dan berdebat pendapat maupun pandangan.

 

Kesan utama Ical  terhadap Subiakto adalah sosok yang konsisten dengan Sistem Ekonomi Pancasila terutama melalui gerakan lewat koperasi dan usaha rakyat. Ditambahkan bahwa beliau tak hanya konsisten secara teoritis juga dalam tataran implementasi.

 

Proses diskusi pemikiran Subiakto ini menghadirkan tiga tokoh yaitu Prof. Dr. Haryono Suyono, Dr. Fuad Bawazier dan Prof. Dr. Edy Suandi Hamid.

 

Pelaksanaan diskusi ini dimoderatori Dr. Aam Bastaman, Dosen Manajemen Universitas Trilogi. Diskusi yang berlangsung hingga jam 11.45 WIB ini berlangsung atas kerjasama Pusat Studi Ekonomi Pancasila, Universitas Trilogi, Penerbit Rajawali Pers dan dukungan penuh Yayasan Damandiri.

 

Pemberdayaan Ekonomi Keluarga

 

Prof. Haryono menguraikan perspektif ekonomi rakyat dalam cakupan luas.  Ide pokok dalam paparan beliau ialah bagaimana memberdayakan ekonomi keluarga.  Menurutnya perberdayaan ini ditujukan bagi keluarga di pedesaan yang miskin dan tertinggal.

 

Gagasan in membutuhkan intervensi dan peran negara. Supaya gagasan ini jadi arena memanfaatkan rakyat buat kepentingan politik dalam Pemilihan Umum, maka diperlukan payung hukum. Diterbitkanlah UU No 2/1992 tentang Perkembangan Kependudukan dan Pembangunan Keluarga Sejahtera.

 

Dalam pandangan Prof. Haryono, supaya ekonomi kerakyatan memiliki cakupan luas dan mendunia dibutuhkan strategi komunikasi kuat  sehingga meningkatkan pelaku dan pelanggan secara gotong royong. Nantinya bakal sejajar dengan korporasi pelaku.

 

Menurut  Prof. Haryono, pada tahun 1990-an model pemberdayaan ekonomi keluarga ini mulai dikembangkan sebagai cikal bakal  pra Koperasi dan pra Sistem Ekonomi Pancasila.  Apa yang dikembangkan Prof. Haryono dan Subiakto berlangsung hingga kini tujuan utamanya adalah mengentaskan kemiskinan dan kesenjangan serta meningkatkan ekonomi keluarga.

 

Dualisme Ekonomi

 

Pemapar kedua, Dr. Fuad Bawazier.  Di awal paparannya ia memberikan masukan dan koreksi teknis penulisan buku. Namun, Fuad menilai buku SEP karangan Pak Subiakto dengan rekan, obyektif, komprehensif dan menggunakan pendekatan ilmiah. Pasalnya telah memuat sejarah pemikiran SEP.  Fuad mencatat bahwa buku mengacu pada pasal 33 UUD 1945 dan implementasinya berbentuk GBHN.

 

Fuad menjelaskan bahwa selama Orde Baru di Indonesia berlangsung dualisme ekonomi. Di satu sisi dikembangkan ekonomi Pancasila merujuk pasal 33 UUD 1945. Peran negara lebih dominan lewat regulasi dan operasionalnya lewat BUMN.  Di sisi lain, ada kelompok yang berorientasi kapitalisme (pasar bebas).

 

Fuad secara kritis menguraikan bahwa pascaOrde Baru berakhir, SEP juga ikut lumpuh. Malah  yang menonjol ekonomi pasar bebas yang meminimalkan peran negara. Muncullah penafsiran baru pasal 33 dengan masifnya utang luar negeri,dan  pasar modal.

 

Ketika Soeharto lengser, kata Fuad, beliau tak menyiapkan kader pemimpin penggantinya, karena ia lebih sebagai pemimpin individu.  Fuad juga memberikan kritik implementasi ekonomi Indonesia kekinian tanpa GBHN, mengabaikan pasal 33 UUD 1945, dan lahirnya aneka ragam regulasi yang pro pasar, sehingga menimbulkan kartel dan oligarki.

 

Fuad menyarankan agar buku ini diperkaya dengan aspek  pertanian, sumberdaya alam, perindustrian, dan perdagangan.  Termasuk kondisi perekonomian Indonesia di era reformasi ini terombang ambing karena menyimpang dari roh Pancasila dan pasal 33 UUD 1945. Terakhir Fuad juga menyarankan supaya ekonomi kerakyatan dihidupkan lagi.

 

Semangat Tak Pernah Berhenti

 

Pemapar ketiga, Prof. Dr. Edi Suandi Hamid.  Dalam pendangan Prof. Edy, Subiakto adalah sosok yang tak hanya getol mengusung pemikiran SEP. Melainkan juga spiritnya  dan usahanya yang tak pernah berhenti hingga akhir hayatnya.  Buku  yang ditulis Subiakto dkk ini dikategotikan sebagai pemikiran ekonomi heterdoks. Pemikiran ekonomi yang lahir dan berkembang di  luar pemikiran arus utama (Mainstream economics), klasik, neoklasik maupun sosialisme.

 

Salah satu hal monumental ialah Subiakto meminta supaya mengajarkan SEP di Universitaskan Trilogi.  Perguruan tinggi yang beliau ikut membidani kelahirannya.  Padahal kata Prof. Edy, Universitas Gajah Mada saja tempat beliau bernaung, hanya mengajarkan Perekonomian Indonesia dan hanya 1 bab mengulas SEP.

 

Pemikiran Subiakto menurutnya bukan saja SEP, melainkan juga Koperasi Indonesia. Beliau semasa hidupnya pemikiran SEP tak hanya berhenti di wacana melainkan juga ada aksinya.  Salah satu gagasan yang acapkali dibahas bersama Prof. Edy ialah pentingnya Indonesia memiliki UU Sistem Perekonomian Nasional.

 

Dia menjelaskan, draft UU tersebut sudah dibahas namun hingga kini tak ketahuan rimbanya. Ironisnya,  di dalam draft itu tak ada kata Sistem Ekonomi Pancasila.  SEP memang khas Indonesia. Tanpa merevitalisasi SEP, sulit menuntaskan problem kemiskinan dan kesenjangan.

 

Prof. Edy juga menyitir bahwa Subiakto juga menggagas pentingnya UU Kemitraan dalam Ekonomi Nasional yang menyempurnakan UU Anti Monopoli dan Persaingan Sehat.  Hal pokok yang mesti dilanjutkan para penulis adalah bagaimana. mematangkan body of knowledge SEP.

 

Debat dan polemik ekonomi Pancasila ini sudah berlangsung lima dekade sejak Emil Salim menulis SEP tahun 1966 di harian Kompas hingga kini.

 

“Meskpun buku SEP ini masih perlu perbaikan dan penyempurnaan konten, tapi kehadirannya memberi harapan dan optimisme bagi kita semua,” ujarnya.

 

Salah satu saran Prof. Edy adalah memperjuangan buku SEP ini sebagai “mata kuliah wajib” semua program studi di semua PT Indonesia.  Untuk itu Kemedibudikti mesti menindaklanjuti  supaya di era milineal ini SEP tetap dipahami secara utuh dan komprehensif.

 

Sumber: https://investor.id/

1.800 Orang Telah Melakukan Vaksinasi di Gerai Vaksin Presisi Universitas Trilogi.

by mufti mufti No Comments

1.800 Orang Telah Melakukan Vaksinasi di Gerai Vaksin Presisi Universitas Trilogi.

 

Jakarta – Gerai Vaksin Presisi Trilogi yang berlangsung atas kerjasama POLRI, TNI, Kelurahan Duren Tiga, Puskesmas Kecamatan Pancoran dan Universitas Trilogi ini memasuki hari ke-9. Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol. Mukti Juharsa dan Lurah Duren Tiga Muhammad Mursid, S.IP, MM melakukan kunjungan guna memantau kegiatan tersebut.

Disambut langsung oleh Rektor Universitas Trilogi Prof. Mudrajad Kuncoro, kunjungan Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol. Mukti Juharsa dan Lurah Duren Tiga Muhammad Mursid, S.IP, MM dilaksanakan di ruang Seminar Eksekutif lt. 2 Gedung Perkuliahaan Universitas Trilogi. Muhammad Mursid, S.IP, MM. mengatakan terkejut dengan animo masyarakat yang tinggi dalam melakukan vaksinasi di Universitas Trilogi ini. “Awalnya 300 vaksin sudah tercapai perharinya, sekarang akan ditambah 400 vaksin perharinya.” Sambung Lurah Duren Tiga.

 

Dalam kesempatan yang sama Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol. Mukti Juharsa menyampaikan apresiasi kepada Universitas Trilogi atas pelaksanaan Gerai Vaksin di wilayah Universitas Trilogi yang telah memberikan vaksin gratis kepada 1.800 orang. Beliau menambahkan “Saya harapkan pada tanggal 17 Agustus 2021 kita semua bisa bebas merdeka dari virus corona, salam presisi!”

 

Kegiatan yang berlangsung sejak 28 Juli 2021 ini sejatinya telah memberikan vaksin gratis setidaknya kepada 1.800 orang. Vaksin yang diberikan merupakan jenis vaksin Sinovac, yang dapat diberikan kepada seluruh warga khususnya masyarakat sekitar universitas trilogi dengan rentan usia 12 tahun – lansia. Hanya dengan membawa KTP, kartu vaksin (jika sudah mendapatkan vaksin pertama) warga bisa mendapatkan vaksin gratis di Gerai Vaksin Universitas Trilogi dan warga yang telah melakukan vaksinasi akan mendapatkan beras 5 Kg dari TNI-POLRI.

 

Rektor Universitas Trilogi Prof. Mudrajad Kuncoro, Ph.D. menyampaikan “Sampai sejauh ini pelaksanaan vaksinasi sudah melebihi target, sebelumnya hanya 200 orang perhari kini sudah lebih dari 300 orang perhari” Pada akhir sesi kunjungan hari ini Rektor Universitas Trilogi mengajak dosen, tenaga pendidik, mahasiswa Universitas Trilogi serta warga sekitar Universitas Trilogi untuk melakukan vaksinasi di Universitas Trilogi sampai dengan 17 Agustus 2021.

Open chat